Wafa

Siang malam kepayahan diburu waktu
Debar-debar kian hari kian laju
Bahaya taruh atas bahu
Mair siaga di tampuk sendu

Peluh umpama madu
Lejar jadi bendu
Ini demi cinta, katanya!

Duhai … mujur betul nasib Puan
Bila riang ingin berkunjung
Jauh menyuruk ke pusat bumi
Tiada satu mampu menghadang

Kausa

Masih di atas pijakan yang sama
Terhenti ….
Menilik kembali pada tumpukan kolase
Yang rapi menyimpan jutaan kenang

Yang memberi ruang pada ego
Menyapih satu persatu sisi terbaik
Menjadi seonggok nista tiada harga
Kini dilahap dosa sendiri

Berbalik sanjung menjilat ludah
Mengemis iba mengharap kembali
Tersiksa jarak merajam
Bolehkah pintu terketuk sekali lagi?

Kembali

Kau bersikeras teguh pada egomu
Sedang aku, tertatih bertahan pada yakinku
Tiap waktu bergantian menyayat kulit sendiri
Menjelma sosok yang tak lagi dikenali

Mengapa ini menjadi rumit?
Bukankah kita pernah sama-sama angkuh
Bersaksi pada langit
Janji kita paling utuh

Lalu mengapa kini kaukunci mulutmu rapat-rapat?
Bila lelah, bicaralah!
Aku masih ingat
Ke mana langkah kaki harus kupulangkan

Jumawa

Si merak sadar diharap-harap
Corak nan elok ia agungkan
Maka pongahlah lenggang berlenggok
Lupa jua kubangan di seberang

Kaul diungkai tiada lagi peduli
Menoleh saja mustahil rupa
Makin hari makin menjadi
Lupa jua kelak kan tumbang

Biar dijilat puas nikmat katanya
Sebab kemudi persis letak bawah ketiak
Meski begitu takdir takkan pula tunduk
Kelak terbuang tahulah rasa

Pucuk Kemuncak

Umpama buhul rumit yang disentak mati
Terperangkap pada simpul terakhir
Pengap tak dapat bergerak

Haruskah aku bergeming
Sementara dada telah kisruh dilanda gemuruh
Tercabik menembus pedih

Duhai muara segala harapan
Sisakan satu ruang untukku
Tempat terakhir aku menanti
Merebah lelap dalam kepastian

lastingsoul27.wordpress.com
ameliyaalbie.wordpress.com

Ini Bukan Kiamat

Tanah ini tandus, saudara!
Tapi tak pernah kudahaga
Sebab keringat menyembur dari setiap pori-pori
Memuaskan kerongkongan

Paceklik tak kenal musim
Lalu kelaparankah si budak di gubuk?
Tidak!
Tangis yang pecah di rongga dada
Menyesakkan, mengenyangkan

Jangan gerun!
Ini santapanku sedari lahir
Meski sempoyongan
Setiap awal tetap akan kupertemukan dengan akhir

Bentala Abdi Dalam Deskripsi

Pariaman. Pernah dengar nama kota ini? Jika saat pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ketika sekolah dasar kau tak tidur atau bolos, kuyakin kau sudah tahu, meski belum sempat kenalan.

Bagi yang nilai IPS-nya jelek, jangan sedih! Kudeskripsikan padamu kota kelahiranku nan damai permai itu detik ini juga. Pariaman adalah salah satu kota kecil di provinsi Sumatera Barat. Berjarak sekitar 56 kilometer dari kota Padang. Penduduknya didominasi oleh etnis Minangkabau.

Pariaman merupakan hamparan dataran rendah yang landai. Perihal objek wisata, ada pantai Gandoriah, Pantai Kata dan Pantai Cermin yang ketika kau menginjakkan kaki di pantai ini, akan terlihat indah pesona gugusan 6 pulau kecil di hadapannya. Ialah Pulau Angso Duo, Pulau Kasiak, Pulau Tangah, Pulau Ujung dan Pulau Kosong. Jika nanti kauputuskan pelesir ke kota ini, kuajak kau menikmati pasir putih nan memukau ke minimal 2 pulau di antaranya. Royalty bisa nego, jangan risau! Haha.

Senja hari, kau akan disuguhkan dengan peristiwa tenggelamnya matahari yang akan memaksa diri seperti dilahirkan sebagai seorang penyair nan puitis memikat hati. Tsaaah!

Pariaman juga dikenal dengan pesta budaya tahunan tabuik. Salah satu budaya yang akan seketika menjadikan Pariaman menjelma kota metropolitan sehari. Lain waktu kujelaskan tentang budaya ini, berdua saja denganmu kalau mau.
Pariaman punya panggilan unik tersendiri kepada seseorang. Ajo (diperuntukkan bagi lelaki, dengan maksud abang), Cik Uniang (diperuntukkan bagi perempuan, dengan maksud kakak) dan beberapa panggilan lainnya. Sayang juga ada.

Selain itu ada satu budaya lagi yang menimbulkan pro dan kontra bagi penduduk asli Pariaman sendiri, maupun penduduk di luar kota. Adalah budaya bajapuik atau babali. Semacam tradisi di mana pihak mempelai wanita mesti menyediakan uang dengan jumlah tertentu yang digunakan untuk meminang mempelai prianya. Kebolak ya? Begitulah!
Tertarik berkunjung ke Pariaman? Datang saja dulu! Siapa tahu jodohmu yang hingga kini belum jua bertamu, nyelip di kota ini. Atau bisa juga aku! 😉